Jam di dinding menunjukkan pukul 6.15 pagi saat ini. Cahaya matahari yang belum terlalu terik mencoba masuk melalui sela-sela gorden hotel yang sedang gue tempatin sekarang. Bahkan sampai langit sudah tidak gelap lagi, belum ada satu pun waktu di mana gue habiskan untuk tertidur. Mata gue terasa perih, berat, dan sayu. Bukan karena belum tidur sama sekali, tapi karena berjam-jam nangis. Bahkan sampai sekarang, masih ada air mata yang berhasil lolos dari ekor mata gue.
I knew I would look very, very horrible right now with red and puffy eyes, swollen face, and a messy hair. And hell I was right, as now I’m staring at the reflection of myself in front of the mirror, geez, I even think I’m fit in enough to star in a zombie movie.
Gue berdiam diri di depan cermin, beberapa kali menarik dan menghembuskan napas perlahan untuk menenangkan diri gue. Gue terus menatap diri, yang terlihat jelek, menyedihkan, dan lemah. Persis menggambarkan apa yang sedang gue rasakan.
She wouldn’t want to see me like this, especially today, would she?
Gue meraih ponsel, berniat menghubungi seseorang untuk membantu memperbaiki penampilan gue sekarang. Tapi langkah gue langsung terhenti begitu aja saat ponsel gue menyala dan menampilkan sebuah foto melalui lock screen gue.
There she is. Smiling at me, showing off her dimples and crinkles at the corner of her eyes. With me sticking my tongue out beside her, putting my head on her shoulder, and Daffa making a nose scrunch at her other side. This was taken 5 years ago. And has always been my phone’s lock screen ever since.
She’s staring at me, smiling, even when I’m bawling my eyes out right now. Why’d you still smile like that, Alea? Why’d you give me that smile only for other someone makes you smile even wider now?
Gue bahkan lupa kapan terakhir kali gue buat dia senyum lebar.
Engga penting juga. Udah bukan tugas gue lagi.
“Halo, Din?” Ucap gue ke adik gue, Adinda, di seberang telepon sana, dengan suara parau.
“Halo, kenapa, Mas?”
“Ke sini jam berapa? Dandan di sini aja bisa ngga, Din? I might need your makeup today.”
“Hah? Buat siapa? Lo bawa cewe, Mas?”
Gue ketawa dalam hati mendengar pertanyaan Dinda. The only girl that I ever want to bring and hold in my arms is holding another man’s arm right now.
“Buat gue, Din.”
“Let me guess, you haven’t slept all night atau lo habis nangis semaleman jadi mata lo bengkak?” She’s my sister not for nothing, huh?
“Dua-duanya. Ke sini, ya, Din?”
Gue bisa denger Dinda menghembuskan napasnya pelan di seberang sana, “iya, Mas. Jam tujuh gue otw sana ya. Mas Daffa di mana?”
“Ada di sini juga, tapi ga sekamar sama gue, belum bangun kayanya.”
“Ya udah, gue siap-siap dulu. Jangan lupa sarapan, Mas.”